Isu Body Shaming Dinilai Jadi Pintu Masuk Efektif Tanamkan Nilai Pancasila ke Gen Z

Bandar Lampung573 Dilihat

Bandarlampung, Baraindonesia.com – Pendekatan terhadap generasi muda dalam menyampaikan materi kebangsaan dinilai perlu bertransformasi agar lebih kontekstual dan menyentuh realitas kehidupan mereka, Minggu (8/2/2026).

Hal itu disampaikan narasumber Pembinaan Ideologi Pancasila (PIP) dan Wawasan Kebangsaan, Detti Febrina pada Sabtu (7/2/2026), dalam kegiatan sosialisasi yang diinisiasi oleh Anggota DPRD Kota Bandarlampung dari Fraksi PKS, Yuni Karnelis.

Dalam pemaparannya, Detti menilai bahwa salah satu tantangan terbesar dalam menyosialisasikan nilai-nilai Pancasila kepada Generasi Z adalah persoalan relevansi. Materi yang disampaikan dengan metode lama, seperti sekadar hafalan, dinilai sudah tidak efektif lagi bagi generasi yang tumbuh di era digital.

‎Menurutnya, pendekatan yang lebih membumi dan dekat dengan pengalaman sehari-hari anak muda justru akan lebih mudah diterima. Salah satu contoh yang ia angkat adalah isu body shaming atau perundungan fisik yang kerap terjadi di lingkungan sosial maupun media sosial.

‎“Isu seperti body shaming sebenarnya sangat berkaitan dengan nilai kemanusiaan dalam Sila Kedua Pancasila. Ketika kita masuk dari persoalan yang mereka rasakan langsung, pesan kebangsaan itu akan lebih mengena dibanding sekadar teori,” ujarnya.

‎Detti menekankan bahwa Generasi Z merupakan generasi yang cerdas dan memiliki akses informasi luas. Namun, ia mengingatkan bahwa kecerdasan tersebut dapat menjadi tantangan tersendiri apabila tidak dibarengi dengan pengelolaan diri yang baik.

‎Ia menilai, ego dan kontrol diri menjadi ujian besar bagi anak muda saat ini. Bonus demografi yang dimiliki Indonesia, kata dia, bisa menjadi kekuatan besar jika generasi muda mencintai ilmu pengetahuan dan memiliki karakter kebangsaan yang kuat. Sebaliknya, tanpa arah dan penguatan nilai, potensi tersebut bisa menjadi ancaman.

‎Tak hanya mengkritisi pola pendekatan terhadap generasi muda, Detti juga menyoroti pentingnya perubahan pola komunikasi pemerintah daerah. Ia berharap pelibatan anak muda dalam forum-forum pembangunan seperti Musyawarah Perencanaan Pembangunan (Musrenbang) tidak sekadar menjadi agenda formalitas.

Baca Juga :  Viper Jalan Terus, Izin Club Malam Masih Tanda Tanya

‎Menurutnya, pemerintah perlu benar-benar mendengar dan memahami aspirasi generasi muda, bukan sekadar melibatkan mereka secara simbolis. Aspirasi tersebut, lanjutnya, harus diakomodasi secara nyata dalam kebijakan pembangunan.

Secara khusus, Detti juga mendorong Pemerintah Kota Bandarlampung untuk lebih aktif menggandeng anak muda dalam menyelesaikan persoalan konkret, seperti pengelolaan sampah dan penanganan banjir. Ia menilai kolaborasi yang melibatkan generasi muda secara langsung akan melahirkan rasa memiliki dan tanggung jawab bersama.

‎“Pemerintah tidak bisa berjalan sendiri. Perlu menjadi inspirator yang mampu mengajak anak muda berdiskusi dan bergerak bersama. Dari persoalan nyata seperti sampah dan banjir, nilai gotong royong dan kebangsaan bisa benar-benar diwujudkan,” pungkasnya. (ido)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *