Isu ‘Orang Dekat Rektor’ Mencuat dalam Seleksi Direktur RSPTN Unila, Kampus Buka Suara

Bandar Lampung — Seleksi Direktur Rumah Sakit Perguruan Tinggi Negeri (RSPTN) Universitas Lampung (Unila) mendadak jadi sorotan. Publik mempertanyakan prosesnya setelah muncul nama kandidat yang disebut memiliki hubungan keluarga dengan pimpinan kampus.

Isu ini cepat bergulir dan memicu kecurigaan soal potensi konflik kepentingan. Namun pihak rektorat membantah tegas. Mereka memastikan seluruh tahapan seleksi berjalan sesuai aturan dan tidak dipengaruhi kepentingan pribadi.

Kepala Biro Humas Unila, Budi Sutomo, menjelaskan bahwa proses seleksi mengacu pada Permendikbud Nomor 8 Tahun 2021. Pengumuman seleksi, kata dia, juga telah disampaikan secara terbuka sejak awal Februari 2026.

Menurut Budi, polemik yang berkembang lebih banyak dipicu oleh kesalahpahaman terhadap syarat jabatan. Ia menegaskan bahwa pengalaman manajerial di rumah sakit tidak harus selalu dalam posisi direktur atau wakil direktur. Pengalaman lain yang relevan selama minimal lima tahun tetap diakui dalam ketentuan.

Penjelasan ini sekaligus menjawab sorotan terhadap salah satu kandidat, dr. Mohamad Indrawan Yachya. Namanya ikut diperbincangkan bukan hanya karena rekam jejaknya, tetapi juga karena isu kedekatan dengan pimpinan kampus.

Pihak Unila menekankan bahwa yang bersangkutan memiliki pengalaman manajerial di RSUD Demang Sepulau Raya, Lampung Tengah. Sejumlah posisi yang pernah diembannya dinilai masuk dalam fungsi manajemen rumah sakit, sehingga dianggap memenuhi syarat seleksi.

Rektor Unila, Lusmeilia Afriani, juga angkat bicara. Ia menegaskan bahwa proses penjaringan dilakukan secara terbuka tanpa pengecualian.

“Siapa saja boleh mendaftar,” ujarnya.

Di sisi lain, ia mengingatkan bahwa posisi direktur RSPTN saat ini bukan jabatan yang langsung siap operasional. Rumah sakit tersebut masih dalam tahap awal pengembangan, bahkan belum memiliki fasilitas lengkap.

Artinya, tantangan utama bagi direktur terpilih bukan sekadar mengelola, tetapi membangun dari nol—termasuk mengurus izin operasional.

Baca Juga :  Wakil Gubernur Lampung dan Menteri Wihaji Hadiri Peringatan Hari Kontrasepsi Sedunia di Metro

Rektorat juga menegaskan bahwa daftar kandidat yang beredar belum merupakan hasil akhir. Proses seleksi masih berjalan, dan verifikasi terhadap dokumen serta rekam jejak peserta masih terus dilakukan.

Jika ditemukan ketidaksesuaian, bukan tidak mungkin kandidat yang sudah masuk daftar pun bisa gugur sebelum penetapan final.

Di tengah derasnya sorotan, transparansi menjadi taruhan utama. Unila memastikan hasil akhir akan diumumkan secara terbuka. Namun publik tampaknya belum akan berhenti mengawasi, terutama untuk memastikan bahwa proses ini benar-benar bersih dari konflik kepentingan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *