Pelestarian Adat Lampung, Gawi Turun Duway Cakak Pepadun Marga Pak Tulangbawang Digelar di Olok Gading

Bandar Lampung313 Dilihat

Bandarlampung, Baraindonesia.com – Tradisi adat Lampung kembali hidup dalam balutan sakral dan penuh makna melalui gelaran Gawi Turun Duway Cakak Pepadun Marga Pak Tulangbawang yang berlangsung khidmat di Negeri Olok Gading, Teluk Betung, Kota Bandarlampung, Rabu (24/12/2025).

Prosesi adat tersebut menjadi bagian tak terpisahkan dari rangkaian ngunduh mantu putra H Muhammad Herman TB dan Hj. Desmawati, SE., yakni Ahmad Daru Atulloh, SE dengan Atha Afifah, SE. Gelaran ini menjadi momentum pelestarian adat sekaligus penguatan nilai persaudaraan dalam falsafah hidup orang Lampung.

Acara adat ini turut dirangkai dengan prosesi angkon muakhi antara H Muhammad Herman TB Bergelar Suttan dan Irjen Pol (Purn) H. Ike Edwin (mantan Kapolda Lampung) sebagai simbol pengikatan persaudaraan secara adat. Selain itu, Marga Pak Tulangbawang juga menganugerahkan adok (gelar adat) sebagai bentuk penghormatan dan pengakuan dalam tatanan adat Pepadun.

Dalam keterangannya, H Muhammad Herman TB menegaskan bahwa Gawi Turun Duway bukan hanya tradisi, melainkan wujud rasa syukur dan empaluasi adat istiadat yang sarat nilai spiritual dan budaya.

“Ini bukan sekadar acara adat, tapi ungkapan syukur saya kepada Allah SWT. Ini menantu pertama saya. Insyaallah besok akan lamaran dan sembah ke rumah. Karena itu hari ini saya melaksanakan megawi adat turun duwai, mengkupak Tulangbawang,” ujar Herman dengan nada haru.

Ia menjelaskan bahwa Lampung memiliki dua pilar adat utama, yakni Pepadun dan Pesisir, yang keduanya hidup berdampingan. Dalam gelaran tersebut, nilai-nilai keduanya berpadu secara harmonis, mengingat latar belakang keluarga yang berasal dari dua tatanan adat tersebut.

“Saya Pepadun, istri saya Pesisir. Kebetulan acara ini berlangsung di wilayah adat Pesisir Sebatin, jadi tata caranya banyak menyesuaikan. Ini bentuk saling menghormati adat,” jelasnya.

Baca Juga :  Setelah Rumah Purwanti Lee Digeledah, Akar Lampung Desak Kejagung Geledah Kantor dan Lahan PT SGC

Rangkaian prosesi adat dimulai dengan Turun Duway, dilanjutkan pacah haji, kemudian posok, yakni prosesi pemberian gelar adat kepada pihak yang dinaikkan dalam struktur adat. Dalam adat Pepadun Tulangbawang, pepadun merupakan tingkatan tertinggi yang menandai kematangan dan kehormatan seseorang dalam masyarakat adat.

“Inilah puncaknya. Pepadun adalah adat tertinggi dalam Tulangbawang, ditandai dengan pakaian putih. Setelah naik pepadun, maka secara adat telah sempurna,” tutur Herman.

Dalam momen sakral tersebut, Marga Pak Tulangbawang menganugerahkan adok kepada tujuh orang, yakni:

1. H. Ike Edwin bergelar Suttan Banjar Negara
2. Hj. Aida Sofia bergelar Suttan Ibu Kuasa
3. Muhammad Gusti Saibatin bergelar Tuan Penyimbang
4. Zainuddin Hasan bergelar Tuan Sangon Saktei
5. Rima Ulfa Yanti bergelar Tuan Idaman
6. Hepi Hasasi bergelar Satria
7. Ita Novita bergelar Tuan Putri Sejati

Pemberian adok ini bukan sekadar gelar simbolik, melainkan amanah adat yang mengandung tanggung jawab moral untuk menjaga marwah budaya Lampung.

Sementara itu, Irjen Pol (Purn) H. Ike Edwin bergelar Suttan Banjar Negara dalam sambutannya menegaskan bahwa pelestarian adat adalah kunci menjaga identitas orang Lampung agar tidak tergerus zaman. Ia secara khusus menyampaikan pesan kepada generasi muda agar tidak tercerabut dari akar budaya.

“Adat ini harus dijaga dan diteruskan. Anak-anak muda jangan malu menjadi orang Lampung. Justru harus bangga dengan jati diri kita, dengan sejarah dan budaya yang kita miliki,” tegas Ike Edwin.

Usai prosesi adat, agenda keluarga besar akan dilanjutkan pada Kamis pagi dengan keberangkatan menuju rumah calon besan di Sukabumi, Lampung. Rangkaian acara berlanjut dengan yasinan, persiapan pernikahan, hingga akad nikah yang dijadwalkan berlangsung di Gedung Balai Krakatau.

Baca Juga :  Pangdam II SWJ Resmi Tutup TMMD Ke 119 Kodim 0411 KM

Gelaran Gawi Turun Duway Cakak Pepadun ini menjadi bukti bahwa adat Lampung tidak hanya dipertahankan sebagai simbol, tetapi terus dihidupkan sebagai warisan nilai, persaudaraan, dan identitas yang mengikat lintas generasi. (ido)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *