Baraindonesia.com – Proyek irigasi gantung di Daerah Irigasi Rawa (DIR) Rawajitu, Mesuji, mendadak jadi sorotan. Proyek senilai Rp97,8 miliar yang baru rampung pada 2023 itu kini sudah mengalami retakan dan kebocoran di sejumlah titik.
Temuan tersebut membuat warga mempertanyakan kualitas pekerjaan proyek yang digadang-gadang menjadi penopang kebutuhan air pertanian di wilayah Mesuji dan Tulang Bawang.
“Kalau baru dua-tiga tahun sudah rusak, masyarakat pasti kecewa,” ujar seorang warga di sekitar lokasi.
Di lapangan, kerusakan terlihat dari retakan struktur saluran, kebocoran air, hingga besi penyangga yang mulai berkarat. Kondisi itu memicu kekhawatiran karena proyek dengan nilai hampir Rp100 miliar tersebut belum lama digunakan.
Kepala Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Mesuji Sekampung, Elroy Koyari, sudah turun meninjau lokasi. BBWS juga mulai melakukan perbaikan pada sejumlah titik retakan dan membersihkan saluran pembuang primer menggunakan alat berat.
Meski begitu, respons “nanti diperbaiki” dinilai belum cukup meredam pertanyaan publik. Warga berharap ada penjelasan lebih terbuka soal penyebab kerusakan yang muncul dalam waktu singkat.
Sorotan terhadap proyek ini semakin kuat setelah Kejaksaan Tinggi Lampung sebelumnya menemukan indikasi kekurangan kualitas dan kuantitas pekerjaan. Bahkan, potensi kerugian negara disebut mencapai Rp14,3 miliar.
Bagi masyarakat, persoalan ini bukan sekadar soal tambal sulam retakan. Mereka ingin proyek besar yang dibangun menggunakan uang negara benar-benar berkualitas dan bisa dimanfaatkan petani dalam jangka panjang.






